30 Tahun Dagang Daging Ular Dan Ramuan

tmp_20140315_222851-1125645466230 Tahun Dagang Daging Ular Dan Ramuan

Lampu Hijau, Tangerang

Dengan cekatan Koh Dedi mengolah daging Ular, yang pada sebagian orang merasa takut akan racunnya. Mulai menjepit kepalanya dengan menggunakan jepitan khusus kemudian kepala ular tersebut dipotong.

Darah ular yang mengalir ditampung didalam gelas yang kemudian dicampur dengan ramuan yang sudah dibuat dari bunga dan rempah-rempah. “Pembuatan ramuan ini saya diajarin oleh nenek saya, memang sejak zaman nenek saya keluarga kami sudah berjualan daging ular, biawak, monyet” kata Koh Dedi.

Diusianya yang sudah tidak muda lagi yaitu 71 tahun, Koh Dedi menekuni berjualan olahan daging ular memang sudah 30 tahun. “Saya meneruskan usaha turun temurun, dan memang sudah menjadi usaha keluarga” ujarnya.

Dengan cekatan tangannya yang sudah mulai keriput mulai menguliti daging ular tersebut. Kemudian mengeluarkan isi perut serta mengambil empedunya dan mencampur kedalam darah berserta ramuannya.

Setelah ular tersebut sudah tinggal dagingnya saja, Koh Dedi mulang mengeluarkan sumsum dari tulang binatang melata tersebut. Kemudian daging ular mulai diolah sesuai pesanan, apakah digoreng, sop bahkan di sate.

Harga satu porsi/ekor ular dibandrol dengan harga 60 ribu rupiah. “Kalau biawak dan monyet tergantung pesanan saja” ujar Koh Dedi seraya menambahkan kalau kedainya buka dari jam 19.00 s/d 23.00 malam. (Sly)

Share on Facebook
1,168 views Cetak Artikel