Cina Benteng Yang Sudah Menjadi Satu Dengan Budaya Tangerang

Cina Benteng Yang Sudah Menjadi Satu Dengan Budaya Tangerang

Tangerang

Perayaan Cap Go Meh yang berlangsung meriah di Kisamaun, Pasar Lama, Kota Tangerang banyak dihadiri berbagai kalangan komunitas sampai pemuka agama dan tokoh masyarakat. Terlihat yang hadir dalam perayaan Cap Go Meh ini bukan hanya etnis Tionghoa saja, namun penduduk sekitar yang bukan keturunan Tionghoa terlihat hadir untuk ikut merayakan Cap Go Meh.

Ratusan masyarakat terlihat memadati kawasan klenteng Boen Tek Bio, para pedagang pernak pernik asal Tionghoa seperti gelang bahkan sampai miniature barongsai terlihat juga ikut meranaikan kawasan tersebut. Terlihat kelompok turis asing yang juga hadir dalam perayaan tahunan tersebut.

Kali ini perayaan Cap Go Meh dilaksanakan di Museum Benteng Heritage, yaitu satu-satunya museum yang merupakan museum barisan budaya peranakan Tionghoa Tangerang. Sebelum acara dimulai, para tamu undangan diajak untuk melihat kedalam museum tersebut. Didalam museum para tamu bisa melihat sejarah peninggalan budaya Tionghoa saat pertama kali datang ke Indonesia pada tahun 1407.

Hudaya Halim selaku pendiri Museum Benteng Heritage mengatakan bahwa dalam perayaan Cap Go Meh tahun ini mengambil tema Kebhinekaan. “Saya engambil tema tersebut untuk memberitahukan bahwa kami etnis Tionghoa tidak beda dengan suku jawa, sunda dan lainnya di Indonesia. Kerena untuk menjadi orang Indoesia tidak harus kehilangan kejawaannya, kesundaannya bahkan kami adalah orang Indonesia” ujar Hudaya Halim.

Tidak hanya itu, Hudaya menambahkan bahwa semua budaya adalah suatu kekuatan, dan budaya tidak ada batasan. “Maka sangat disayangkan jika agama yang begitu lurus sering didalah gunakan oleh segelintir orang untuk memperpecah budaya” tambahnya kembali.

Dalam perayaan Cap Go Meh ini juga selain menampilkan pertunjukan Barongsai, Naga serta tarian khas Tionghoa. juga menampilkan tari Saman dari Aceh serta iringan music gambang kromong. Hal itu menandakan bahwa tidak ada batasan dan sekat dalam berbudaya di Indonesia. “Pelangi Indah Karena Berwarna Warni, sama halnya dengan budaya yang saat ini kami tampilkan dihadapan masyarakat luas” pungkas Hudaya Halim. (sly)

Share on Facebook
979 views Cetak Artikel