Isak Tangis Iringi Pemakaman Alawy

Alawy Yusianto Putra (15), siswa kelas 10 SMAN 6 Bulungan, Jakarta Selatan, yang tewas mengenaskan, Selasa (25/9), dimakamkan di TPU Kampung Poncol, Kelurahan Pedurenan, Kecamatan Karang Tengah, Kota Tangerang.

Sebelum dimakamkan, jenazah terlebih dahulu disalatkan di Masjid Al-Ikhlas, yang terletak tidak jauh dari rumahnya di Jalan Mawar V Blok E10/10 Ciledug Indah II. Ratusan pelayat yang terdiri dari teman, guru, saudara, dan tetangga, turut mengiringi putra bungsu pasangan Taury Yusianto dan Endang Puji Astuti itu, ke TPU Kampung Poncol.

Letak TPU tersebut tidak jauh dari rumah Alawy, karena TPU itu merupakan fasos/fasum dari perumahan Ciledug Indah I dan II. “Terlalu cepat Alawy pergi. Padahal dia menyimpan banyak potensi,” ujar Besti Dwihari, Wali Kelas 10.8, yang juga guru kimia.

Menurut Besti, pada saat ujian tengah semester (UTS) yang baru saja selesai, Alawy mendapat nilai 75 untuk pelajaran kimia. “Dari delapan soal, tiga soal dijawab dengan benar dan mendapat 100, tapi soal yang lain jawabannya tidak sempurna. Maka jika dirata-rata nilainya 75,” ucapnya.

Di dalam kelas 10.8 kata Besti, Alawy dikenal sebagai siswa yang ceria. “Anaknya tidak nakal, tapi suka becanda. Kelas terasa ramai kalau ada dia,” ujar Besti.

Pada saat jenazah dimasukkan ke dalam liang lahat, tampak kedua orang tua Alawy tak kuasa menahan tangis. Endang Puji Astuti, tak berhenti menangis. Dia terus dipapah oleh kerabatnya. Taury Yusianto yang terlihat tabah, akhirnya juga ambruk, tak kuasa menahan kesedihan. Taury tampak lemas tak berdaya, saat tanah merah menutupi kain kafan yang dikenakan Alawy.

“Alawy jangan pergi….Kenapa pergi begitu cepat,” ujarnya sambil menangis.

Akhirnya kerabat Taury memapahnya untuk menjauh dari makam Alawy. Taury terlihat terus meraung nangis, seolah tak percaya anaknya itu telah tiada.

Prosesi pemakaman yang dimulai sekitar pukul 09.30, akhirnya selesai pukul 11.00. Teman wanita Alawy juga menangis. “Alawy jangan pergi. Jangan tinggalkan kami,” ujar Ratu Alika, teman dekatnya.

Gelar Pahlawan Kementerian Pendidikan Nasional memberikan gelar pahlawan kepada Alawy Yusianto Putra, sebagai pahlawan anti kekerasan di dunia pendidikan. “Semoga kejadian yang menyedihkan ini menjadi momentum buat kita semua untuk menyudahi keributan selama ini,” ucap Haryono Umar, Inspektorat Jenderal Kementerian Pendidikan Nasional.

Menurut Haryono, pihaknya akan segera membentuk tim investigasi, guna menangani kasus ini. Tim yang terdiri dari beberapa unsur itu, akan mencari solusi jangka panjang.

Namun terkait wacana SMAN 6 dan 70 akan digabung, kata Haryono, hal itu belum terpikirkan. “Yang pasti harus ada sanksi tegas kepada anak murid yang berkelahi. Kalau perlu dikeluarkan dari sekolah sehingga tak ada sekolah yang mau menerimanya kembali,” ucapnya. (Sly)

Share on Facebook
932 views Cetak Artikel