Malam Sembahyang Cap Go Meh Dengan Terangnya Nyala Lilin Di Klenteng Boen Tek Bio

20150304_190813Malam Sembahyang Cap Go Meh Dengan Terangnya Nyala Lilin Di Klenteng Boen Tek Bio

Tangerang,

Cap Go Meh merupakan perayaan yang dilakukan 15 hari setelah Imlek. Perayaan ini biasanya dilakukan oleh kaum komunitas Tionghoa yang tinggal di luar China. Cap Go Meh juga merupakan bulan penuh pertama dalam tahun baru Imlek.

Biasanya perayaan ini dirayakan dengan jamuan makan besar dan juga festival lampion. Hari raya Cap Go Meh yang jatuh pada tanggal 15 bulan satu tahun Imlek adalah hari raya tradisional Tiongkok yang bersejarah dua ribu tahun lebih.

Menurut tradisi rakyat Tiongkok, berakhirnya perayaan Cap Go Meh menandakan selesainya seluruh perayaan Tahun Baru Imlek. Dalam perayaan Cap Go Meh akan banyak dilakukan karnaval, salah satunya adalah arak-arakan patung naga yang dibawa oleh beberapa orang.

Seperti halnya yang dilakukan di klenteng Boen Tek Bio, perayaan Cap Go Meh kali ini melibatkan seluruh komunitas Tionghoa. Pada Rabu (4/3) telihat banyak berdatangan warga etnis cina Tangerang mendatangi klenteng Boen Tek Bio. Mereka dating untuk melakukan sembahyang malam Cap Go Meh.

Terlihat lilin besar di nyalakan di klenteng yang sudah berusia diatas 300 tahun tersebut. Dan juga terlihat para etnis Tionghoa melakukan sembahyang malam imlek. Mereka tidak hanya dari Tangerang, namun banyak juga yang dari Jakarta degan tujuan sekalian wisata di Kota Lama Kisamaun dengan berbagai wisata kulinernya.

Seperti dikatakan Oey Tjin Eng yang merupakan humas dari Klenteng Boen Tek Bio bahwa merupakan awal tanam di awal tahun baru Imlek. “Banyak ritual yang dilakukan pada menjelang Imlek sampai dengan malam Cap Go Meh. Salah satunya makan kue onde-onde, memberikan sumbangan kepada orang tidak mampu yang ada di luar klenteng menunggu selesai sembahyang” kata Oey Tjin Eng.

Tidak hanya itu, pada malam Cap Go Meh para etnis Tionghoa melakukan sembahyang yang bertujuan juga untuk mengevaluasi kehidupan selama tahun kemarin. “Yang baik dikembangkan dan yang buruk ditinggalkan” ujar Oey Tjin Eng. (sly)

 

Share on Facebook
3,090 views Cetak Artikel